ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53: Seberapa Besar Beda Performanya di HP?

ARM Cortex-A55 dan ARM Cortex-A53 adalah dua jenis prosesor ARM yang paling banyak dipakai di smartphone Android dalam 10 tahun terakhir. Keduanya menjadi otak di balik ratusan model HP murah dan menengah yang beredar secara resmi di Indonesia, mulai dari seri Redmi, Galaxy A dan M lawas, sampai berbagai HP lokal dan perangkat IoT. Tidak heran banyak orang akhirnya mencari jawaban: seberapa besar sebenarnya beda performa ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53 di smartphone yang kita pakai setiap hari.

Di lapangan, kami sering menjumpai beberapa pola masalah yang sama berulang. Banyak pengguna mengeluh HP Android mereka cepat lemot padahal RAM sudah 4 GB atau 6 GB, sering panas, dan baterai terasa boros setelah satu-dua tahun. Salah satu penyebab yang sering terlewat adalah generasi prosesor yang dipakai masih ARM Cortex-A53 lama, sehingga ketika aplikasi makin berat dan sistem makin gemuk, CPU justru menjadi bottleneck walaupun RAM dan memori internal terlihat cukup.

Masalah lain muncul saat memilih HP baru dibandingkan dengan HP bekas. Di marketplace, beredar banyak HP bekas murah berbasis Snapdragon atau Helio generasi lama yang masih mengandalkan ARM Cortex-A53, sementara di sisi lain ada HP baru sedikit lebih mahal yang sudah memakai kombinasi core besar modern dan ARM Cortex-A55 sebagai core kecil. Banyak orang bingung: pilih HP bekas yang kelihatannya lebih wah fiturnya, atau HP baru yang di atas kertas punya prosesor ARM lebih baru.

Kami juga melihat salah paham yang cukup umum soal octa-core. Sebagian pembeli hanya melihat tulisan delapan core di brosur, tanpa menyadari bahwa delapan core ARM Cortex-A53 generasi lama berbeda jauh performanya dengan kombinasi core besar dan core kecil ARM Cortex-A55 generasi baru. Akibatnya, keputusan pembelian sering didasarkan pada angka jumlah core dan RAM, bukan pada kualitas dan generasi prosesor ARM yang lebih menentukan umur pakai perangkat.

ARM sendiri merancang ARM Cortex-A53 sebagai core hemat daya ARMv8-A 64-bit generasi pertama, dan ARM Cortex-A55 sebagai penerus langsung di ARMv8.2-A dengan peningkatan performa dan efisiensi yang jelas. Karena itu, membandingkan ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53 bukan sekadar latihan teknis, tetapi langkah penting untuk menjawab semua masalah di atas: HP lemot, baterai boros, panas, dan kebingungan memilih HP baru atau bekas.

Kami menyusun artikel ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53 ini untuk menjawab kebutuhan tersebut. Kami akan membahas kenapa dua jenis prosesor ARM ini penting dibandingkan, bagaimana sejarah rilis dan kategorinya, contoh chipset dan smartphone populer di Indonesia yang menggunakannya, perbedaan performa dan efisiensi di dunia nyata, sampai panduan praktis memilih HP Android di Indonesia berdasarkan jenis prosesor ARM yang dipakai.

Baca juga: Kenapa Chipset ARM Selalu Ada di Spesifikasi HP?

ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53
Ilustrasi perbedaan dan perbandingan ARM Cortex-A53 vs Cortex-A55

Kenapa ARM Cortex-A55 dan ARM Cortex-A53 penting untuk dibandingkan

ARM menempatkan ARM Cortex-A53 sebagai CPU 64-bit hemat daya generasi pertama di keluarga ARMv8-A, dan core ini sudah dipakai di miliaran produk, mulai dari smartphone, perangkat IoT, hingga otomotif. Cortex-A53 selama bertahun-tahun menjadi standar de facto untuk HP Android murah dan menengah di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

ARM Cortex-A55 dirilis sebagai penerus langsung ARM Cortex-A53, dengan klaim peningkatan performa hingga sekitar 18 persen dan efisiensi daya sekitar 15 persen pada level desain yang sebanding, plus perbaikan besar pada latensi memori dan kemampuan AI. ARM secara eksplisit menyebut Cortex-A55 sebagai prosesor yang dirancang untuk menjadi fondasi ekosistem digital masa depan, menggantikan peran Cortex-A53 di banyak segmen.

Karena itu, ketika kita membahas performa chipset smartphone yang memakai ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53, kita sebenarnya sedang membahas peralihan generasi yang memengaruhi kenyamanan pemakaian, daya tahan baterai, dan umur pakai HP Android beberapa tahun ke depan. Membandingkan keduanya membantu menjawab apakah HP lama berbisis Cortex-A53 masih layak dilirik atau sebaiknya langsung fokus ke HP yang sudah mengadopsi Cortex-A55 atau generasi lebih baru.

Sekilas tentang ARM Cortex-A53

ARM Cortex-A53 adalah prosesor ARMv8-A 64-bit dengan desain hemat daya yang diumumkan sekitar 2012 dan mulai dipakai luas di smartphone dan perangkat konsumer sejak 2014. Core ini menggunakan desain in-order superskalar dua-lebar yang menyeimbangkan performa dan konsumsi daya, cocok untuk HP murah, perangkat IoT, dan embedded systems.

ARM menyatakan bahwa Cortex-A53 menjadi salah satu CPU ARM paling sukses, dengan pengapalan miliaran unit ke berbagai produk. Cortex-A53 hadir dalam konfigurasi dual-core, quad-core, hexa-core, hingga octa-core, baik berdiri sendiri maupun dipasangkan dengan core besar seperti Cortex-A57, Cortex-A72, atau Cortex-A73 dalam konfigurasi big.LITTLE.

Secara praktis, ketika kamu melihat HP Android dengan chipset Snapdragon 410, 412, 415, 425, 427, 430, 435, 439, 450, atau beberapa seri 6xx lama, besar kemungkinan di dalamnya terdapat cluster ARM Cortex-A53 sebagai core kecil atau bahkan satu-satunya core CPU. Hal yang sama berlaku untuk banyak chipset MediaTek MT67xx dan Helio P generasi awal, serta Exynos seri 7 dari Samsung.

Di luar smartphone, ARM Cortex-A53 juga dipakai di Raspberry Pi 3 dan Raspberry Pi Zero 2 W, yang memberi akses arsitektur ARM 64-bit ke komunitas hobi dan edukasi dengan harga murah. Banyak SoC Allwinner, Rockchip, NXP, Renesas, dan vendor lain juga memilih Cortex-A53 untuk set-top box, TV box, router, panel industri, dan gateway IoT, menjadikannya core yang benar-benar lintas kategori produk.

Sekilas tentang ARM Cortex-A55

ARM Cortex-A55 diumumkan pada Mei 2017 sebagai prosesor ARMv8.2-A 64-bit yang menggantikan Cortex-A53. ARM memperkenalkan Cortex-A55 bersamaan dengan Cortex-A75 dan teknologi DynamIQ, yang memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengombinasikan core besar dan kecil dalam satu cluster CPU.

ARM mengklaim bahwa Cortex-A55 menawarkan peningkatan performa hingga sekitar 18 persen dan efisiensi daya sekitar 15 persen dibandingkan dengan Cortex-A53 pada frekuensi dan proses yang sama. Selain itu, perbaikan pada subsystem memori dan konfigurasi cache membuat latensi memori bisa turun drastis, sehingga aplikasi terasa lebih responsif dalam banyak skenario. Cortex-A55 juga menambahkan dukungan fitur baru untuk AI dan virtualisasi, menjadikannya lebih siap untuk kebutuhan edge computing masa depan.

Di smartphone Android, ARM Cortex-A55 banyak dipakai sebagai core kecil yang dipasangkan dengan core besar seperti Cortex-A75, Cortex-A76, Cortex-A77, dan Cortex-A78 dalam chipset menengah dan menengah atas. Chipset seperti Snapdragon 660 generasi baru, 662, 665, 675, 680, 720G, 730, 730G, serta berbagai Helio G-series dan Dimensity generasi awal memanfaatkan kombinasi ini untuk menghadirkan performa dan efisiensi yang seimbang untuk penggunaan harian dan gaming.

Tahun rilis, perangkat awal, dan contoh penggunaan ARM Cortex-A53

ARM Cortex-A53 diumumkan sebelum 2014 sebagai bagian dari generasi pertama ARMv8-A 64-bit, dan mulai hadir di smartphone konsumer sekitar 2014–2015. ARM menargetkannya untuk HP murah, perangkat IoT, serta embedded systems yang membutuhkan transisi ke 64-bit dengan biaya dan konsumsi daya rendah.

Beberapa contoh dan kategori perangkat berbasis ARM Cortex-A53 yang relevan untuk pasar Indonesia antara lain:

Smartphone dan tablet awal 64-bit. Berbagai chipset Snapdragon seri 400 generasi awal 64-bit seperti Snapdragon 410 dan 412 memanfaatkan cluster quad-core Cortex-A53. HP Android entry-level dari merek global mulai mengadopsinya sejak 2014, termasuk seri Samsung Galaxy dan Motorola generasi pertama yang dijual resmi di Indonesia.

Snapdragon 450 dan HP entry-level populer di Indonesia. Snapdragon 450, salah satu chipset populer di segmen entry-level, menggunakan delapan core Cortex-A53 dengan kecepatan hingga sekitar 1,8 GHz pada proses 14 nm. Chipset ini dipakai di banyak HP murah seperti Samsung Galaxy A02s dan beberapa HP low-end lain dari berbagai merek yang dijual resmi di Indonesia.

Chipset Snapdragon 665 dan HP menengah generasi sebelumnya. Di segmen menengah, Snapdragon 665 mengombinasikan empat core besar Cortex-A73 dengan empat core kecil Cortex-A53. Chipset ini digunakan di HP populer seperti Redmi Note 8, Oppo A52, dan beberapa model lain yang beredar secara resmi di Indonesia, menjadikan ARM Cortex-A53 tetap hadir dalam pengalaman pengguna menengah.

Raspberry Pi dan papan pengembangan. Raspberry Pi 3 Model B memakai SoC quad-core Cortex-A53, memberikan akses luas ke arsitektur ARM 64-bit di kalangan pelajar, maker, dan pengembang hobi. Raspberry Pi Zero 2 W juga memakai core Cortex-A53, memperluas kehadiran core ini ke perangkat IoT kecil dan proyek DIY.

Perangkat IoT dan industri. Banyak SoC Allwinner, Rockchip, NXP, dan Renesas berbasis Cortex-A53 dipakai di set-top box, TV box, panel industri, dan gateway IoT. ARM mencontohkan bahwa campuran efisiensi dan dukungan software membuat Cortex-A53 sangat menarik untuk pasar ini.

Tahun rilis, perangkat awal, dan contoh penggunaan ARM Cortex-A55

ARM Cortex-A55 secara resmi diumumkan pada 2017 bersama Cortex-A75, dengan fokus pada peningkatan performa, efisiensi, dan kemampuan AI dibandingkan dengan Cortex-A53. ARM menjelaskan bahwa Cortex-A55 dirancang untuk memberi peningkatan performa sekitar 18 persen dan efisiensi daya sekitar 15 persen, dengan latensi memori yang bisa berkurang secara signifikan berkat konfigurasi cache yang lebih canggih.

Beberapa contoh dan kategori perangkat berbasis ARM Cortex-A55 yang relevan untuk Indonesia:

Helio G70 dan HP gaming hemat budget. MediaTek Helio G70 menggunakan dua core performa Cortex-A75 dan enam core hemat daya Cortex-A55. Di Indonesia, Helio G70 pertama kali dikenal luas melalui realme C3 yang dipasarkan sebagai HP gaming satu jutaan, kemudian menyebar ke berbagai HP gaming murah lain. Konfigurasi ini memberi gambaran nyata bagaimana kombinasi Cortex-A75 dan Cortex-A55 dapat memberikan pengalaman gaming yang cukup nyaman di kelas harga rendah.

Helio G80, G85, dan G88 di HP menengah. Seri Helio G80 dan G85, yang juga memakai kombinasi Cortex-A75 dan Cortex-A55, banyak dipakai di HP seperti realme Narzo, Infinix Hot dan Note, serta beberapa seri Tecno yang dijual resmi di Indonesia. Ini memperkuat posisi Cortex-A55 sebagai core kecil favorit untuk HP gaming dan HP multimedia kelas menengah.

Chipset Snapdragon kelas menengah terbaru. Berbagai chipset Snapdragon 6xx dan 7xx seperti Snapdragon 665, 675, 680, 720G, 730, dan 730G mengombinasikan core besar Cortex-A7x dengan core kecil Cortex-A55 dalam jumlah empat sampai enam unit. HP seperti Redmi Note generasi baru, beberapa seri Redmi Note Pro, Realme seri angka dan Narzo, serta Galaxy A seri menengah yang lebih baru memanfaatkan pola ini untuk memberikan keseimbangan antara performa dan baterai.

Perangkat IoT dan industri generasi baru. Renesas menggunakan multicore ARM Cortex-A55 di seri RZ/G2L untuk single-board computer dan solusi AI edge, menegaskan bahwa Cortex-A55 tidak hanya cocok untuk smartphone, tetapi juga untuk gateway IoT, panel industri, dan perangkat komputasi tepi lainnya.

Baca Juga: Macam-Macam Chipset ARM dari Pertama Hingga Terbaru

Perbandingan teknis dan performa ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53

Secara teknis, ARM Cortex-A55 dan ARM Cortex-A53 sama-sama berada di keluarga prosesor ARMv8 64-bit dan sama-sama diposisikan sebagai core hemat daya. Perbedaannya terletak pada generasi arsitektur dan berbagai penyempurnaan di level mikroarsitektur dan subsistem memori.

ARM mengklaim bahwa Cortex-A55 memberikan:

Peningkatan performa hingga sekitar 18 persen dibandingkan dengan Cortex-A53 pada frekuensi dan proses yang sama, berkat pipeline yang dioptimalkan dan peningkatan eksekusi instruksi.

Efisiensi daya sekitar 15 persen lebih baik pada beban kerja serupa, sehingga untuk kinerja yang sama Cortex-A55 dapat mengonsumsi daya lebih sedikit dibandingkan dengan Cortex-A53.

Latensi memori yang jauh lebih rendah dan bandwidth lebih tinggi, terutama jika menggunakan konfigurasi cache yang dianjurkan oleh ARM, sehingga aplikasi terasa lebih responsif ketika sering mengakses data.

Dalam penggunaan di smartphone, artinya HP yang memakai ARM Cortex-A55 sebagai core kecil cenderung:

  • Lebih cepat saat membuka dan berpindah aplikasi jika spesifikasi lain setara.
  • Lebih hemat baterai dalam pemakaian campuran harian.
  • Lebih siap menghadapi update aplikasi dan sistem operasi beberapa tahun ke depan.

Perbandingan di smartphone dan gadget lain

Di smartphone Android, ARM Cortex-A53 biasanya muncul di HP entry-level dan menengah generasi lama, sedangkan ARM Cortex-A55 banyak ditemui di HP menengah dan menengah atas yang lebih baru. Pengalaman kami melihat berbagai generasi HP dan review menunjukkan pola berikut.

HP berbasis Cortex-A53 cocok untuk:

  • Pemakaian dasar seperti chat, media sosial ringan, browsing, dan streaming jika antarmuka tidak terlalu berat.
  • Pengguna yang tidak terlalu sering membuka banyak aplikasi berat sekaligus.

Namun, seiring waktu, HP berbasis Cortex-A53 cenderung lebih cepat terasa tertinggal ketika aplikasi dan sistem operasi makin menuntut. Di sisi lain, HP dengan ARM Cortex-A55 sebagai core kecil di dalam chipset menengah atau menengah atas biasanya memberikan:

  • Pengalaman harian yang lebih mulus, terutama saat multitasking moderat.
  • Kombinasi performa dan baterai yang lebih baik karena efisiensi core A55.
  • Potensi yang lebih baik untuk gaming ringan hingga sedang, terutama jika digabungkan dengan core besar modern.

Di perangkat lain seperti IoT gateway, single-board computer, dan sistem industri, ARM Cortex-A55 mulai menggantikan ARM Cortex-A53 dalam desain baru. Produsen memilih Cortex-A55 karena memberikan margin performa dan efisiensi yang lebih besar untuk menjalankan aplikasi AI ringan dan komputasi tepi dalam batas konsumsi daya yang ketat.

Panduan praktis memilih antara ARM Cortex-A55 dan ARM Cortex-A53 di smartphone

Bagi pengguna smartphone Indonesia, perbandingan ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53 sebaiknya dijadikan salah satu pertimbangan utama saat memilih HP baru atau bekas. Kami menyarankan langkah praktis berikut.

Pertama, cek jenis chipset dan core CPU. Cari, tahu nama chipset yang dipakai HP incaranmu, kemudian cek apakah chipset itu memakai ARM Cortex-A53, ARM Cortex-A55, atau kombinasi keduanya dengan core besar modern. Informasi ini bisa kamu dapatkan di spesifikasi resmi, ulasan teknis, atau database SoC.

Kedua, sesuaikan dengan lama pemakaian yang kamu rencanakan. Jika kamu hanya butuh HP cadangan atau pemakaian jangka pendek, HP dengan ARM Cortex-A53 masih bisa dipertimbangkan asal harganya sangat murah dan spesifikasi lain mencukupi. Jika kamu membutuhkan HP utama yang nyaman dipakai 3–4 tahun, kami menyarankan memilih HP dengan chipset yang memakai ARM Cortex-A55 sebagai core kecil, atau bahkan generasi lebih baru seperti Cortex-A510, agar HP tidak terlalu cepat tertinggal.

Ketiga, lihat pola penggunaan harian. Untuk pemakaian dasar, HP ARM Cortex-A53 masih dapat mengakomodasi kebutuhan, dengan catatan jangan terlalu menuntut banyak aplikasi berat dan multitasking ekstrem. Untuk gaming, kerja, editing ringan, dan konsumsi konten berat, HP dengan kombinasi core besar seperti Cortex-A75, A76, A77, A78 dan core kecil ARM Cortex-A55 akan memberikan pengalaman yang jauh lebih menyenangkan.

Dengan langkah-langkah ini, informasi teknis tentang ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53 berubah menjadi alat praktis yang membantu kamu membuat keputusan pembelian smartphone yang lebih rasional dan berorientasi pada masa depan.

FAQ seputar ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53

1. Apa perbedaan utama ARM Cortex-A55 dan ARM Cortex-A53 di smartphone?

ARM Cortex-A55 adalah penerus ARM Cortex-A53 dengan peningkatan performa dan efisiensi daya yang jelas. ARM mengklaim Cortex-A55 memberikan hingga sekitar 18 persen performa lebih tinggi dan efisiensi daya sekitar 15 persen lebih baik pada kondisi yang sebanding, dengan latensi memori yang jauh lebih rendah. Dalam penggunaan nyata, HP dengan ARM Cortex-A55 biasanya terasa lebih responsif dan hemat baterai daripada HP dengan Cortex-A53 apabila spesifikasi lain setara.

2. Apakah masih layak membeli HP baru dengan ARM Cortex-A53 tahun ini?

Untuk pemakaian ringan seperti chat, media sosial ringan, dan streaming, HP baru dengan chipset berbasis ARM Cortex-A53 masih bisa dipertimbangkan jika harganya sangat terjangkau dan kamu sadar akan batasan performanya. Namun, jika tujuanmu adalah memakai HP sebagai perangkat utama selama 3–4 tahun, kami menyarankan memilih HP yang chipset-nya sudah memakai ARM Cortex-A55 atau generasi lebih baru, karena ARM Cortex-A53 sudah termasuk generasi lama yang mulai tersisih di desain SoC terbaru.

3. Apakah ARM Cortex-A55 selalu lebih cepat dari Cortex-A53 di semua kondisi?

Secara desain, ARM Cortex-A55 memiliki performa per MHz dan efisiensi lebih baik dibandingkan dengan ARM Cortex-A53, sehingga dalam banyak skenario ia memang lebih cepat dan lebih hemat daya. Tetapi performa akhir tetap sangat dipengaruhi oleh faktor lain seperti frekuensi clock, jumlah core, jenis core besar yang dipasangkan, RAM, penyimpanan, dan optimasi software. Jadi, meskipun Cortex-A55 unggul di atas kertas, HP berbasis Cortex-A53 dengan tuning baik masih bisa terasa cukup nyaman untuk pemakaian dasar.

4. Bagaimana cara mengetahui apakah HP saya memakai ARM Cortex-A55 atau ARM Cortex-A53?

Biasanya pabrikan tidak mencantumkan nama core ARM di brosur, tetapi kamu bisa melihat nama chipset yang digunakan HP tersebut. Setelah itu, cari informasi chipset itu di situs resmi vendor, dokumentasi ARM, atau database SoC untuk mengetahui konfigurasi core di dalamnya. Dari sana, kamu bisa melihat apakah chipset tersebut memakai ARM Cortex-A53, ARM Cortex-A55, atau kombinasi keduanya dengan core besar lain.

5. Untuk pengguna Indonesia, mana yang lebih disarankan antara HP dengan ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53?

Jika budgetmu mencukupi, kami lebih menyarankan memilih HP yang chipset-nya memakai ARM Cortex-A55 sebagai core kecil, terutama jika dipadukan dengan core besar modern seperti Cortex-A75, A76, A77, atau A78. Kombinasi ini memberikan performa lebih baik, baterai lebih awet, dan umur pakai yang lebih panjang. HP dengan ARM Cortex-A53 sebaiknya dipilih hanya jika kamu sadar bahwa HP tersebut lebih cocok untuk penggunaan dasar dan tidak menuntut kinerja tinggi dalam jangka panjang.

Previous Post