Perbedaan & Perbandingan Performa Cortex‑A55 dan A53 di HP

ARM Cortex-A55 dan ARM Cortex-A53 adalah dua jenis prosesor ARM yang paling banyak dipakai di smartphone Android dalam 10 tahun terakhir. Keduanya menjadi otak di balik ratusan model HP murah dan menengah yang beredar secara resmi di Indonesia, mulai dari seri Redmi, Galaxy A dan M lawas, sampai berbagai HP lokal dan perangkat IoT.

Tidak heran banyak orang akhirnya mencari jawaban: seberapa besar sebenarnya beda performa ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53 di smartphone yang kita pakai setiap hari.

Ringkasan Penting ARM Cortex-A55 dan ARM Cortex-A53
  • ARM Cortex-A55 dirilis sebagai penerus langsung Cortex-A53 dengan arsitektur memori dan dukungan komputasi modern (termasuk komputasi tepi/AI) yang jauh lebih siap menghadapi aplikasi masa kini.
  • Cortex-A55 menawarkan peningkatan performa secara rata-rata hingga 18% sekaligus efisiensi daya 15% lebih baik pada beban kerja yang sama dibandingkan pendahulunya.
  • Delapan core lawas A53 sering menjadi penyebab HP cepat lemot dan panas saat ini. Angka "delapan core" di brosur tidak berarti apa-apa jika tidak memakai generasi arsitektur yang baru.
  • HP berbasis Cortex-A53 kini hanya cocok untuk pemakaian dasar jangka pendek, sementara Cortex-A55 adalah syarat mutlak untuk kenyamanan pemakaian jangka panjang (3–4 tahun).

Di lapangan, kami sering menjumpai beberapa pola masalah yang sama berulang. Banyak pengguna mengeluh HP Android mereka cepat lemot padahal RAM sudah 4 GB atau 6 GB, sering panas, dan baterai terasa boros setelah satu-dua tahun.

Salah satu penyebab yang sering terlewat adalah generasi prosesor yang dipakai masih ARM Cortex-A53 lama, sehingga ketika aplikasi makin berat dan sistem makin gemuk, CPU justru menjadi bottleneck walaupun RAM dan memori internal terlihat cukup.

Masalah lain muncul saat memilih HP baru dibandingkan dengan HP bekas. Di marketplace, beredar banyak HP bekas murah berbasis Snapdragon atau Helio generasi lama yang masih mengandalkan ARM Cortex-A53, sementara di sisi lain ada HP baru sedikit lebih mahal yang sudah memakai kombinasi core besar modern dan ARM Cortex-A55 sebagai core kecil.

Lalu, banyak orang bingung: pilih HP bekas yang kelihatannya lebih wah fiturnya, atau HP baru yang di atas kertas punya prosesor ARM lebih baru.

Kami juga melihat salah paham yang cukup umum soal octa-core. Sebagian pembeli hanya melihat tulisan delapan core di brosur, tanpa menyadari bahwa delapan core ARM Cortex-A53 generasi lama berbeda jauh performanya dengan kombinasi core besar dan core kecil ARM Cortex-A55 generasi baru.

Akibatnya, keputusan pembelian sering didasarkan pada angka jumlah core dan RAM, bukan pada kualitas dan generasi prosesor ARM yang lebih menentukan umur pakai perangkat.

TeknoPlug telah merangkum berbagai hal tentang kedua jenis chipset ARM ini, termasuk sejarah rilis dan kategorinya, contoh chipset dan smartphone populer di Indonesia yang menggunakannya, perbedaan teknis di dunia nyata, sampai panduan praktis memilih HP Android di Indonesia berdasarkan jenis prosesor ARM yang dipakai.

ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53
Ilustrasi perbedaan dan perbandingan ARM Cortex-A53 vs Cortex-A55

Perbedaan Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53

ARM sendiri merancang ARM Cortex-A53 sebagai core hemat daya ARMv8-A 64-bit generasi pertama, dan ARM Cortex-A55 sebagai penerus langsung di ARMv8.2-A. Karena itu, membandingkan ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53 bukan sekadar latihan teknis, tetapi langkah penting untuk menjawab semua masalah di atas: HP lemot, baterai boros, panas, dan kebingungan memilih HP baru atau bekas.

Namun, sebelum menelusuri apa saja yang membedakan kedua jenis chipset ARM ini, yuk kita simak dulu seperti apa "rupa" dari masing-masing chipset ini.

Profil Penggunaan ARM Cortex-A53

ARM Cortex-A53 adalah prosesor ARMv8-A 64-bit dengan desain hemat daya yang diumumkan sekitar 2012 dan mulai dipakai luas di smartphone konsumer sejak 2014. Core ini menggunakan desain in-order superskalar dua-lebar yang menyeimbangkan performa dan konsumsi daya. ARM menargetkannya untuk HP murah, perangkat IoT, serta embedded systems yang membutuhkan transisi ke 64-bit dengan biaya rendah, menjadikannya salah satu CPU ARM paling sukses dengan pengapalan miliaran unit.

Beberapa contoh dan kategori perangkat berbasis ARM Cortex-A53 yang relevan di Indonesia antara lain:

Smartphone entry-level dan menengah lawas. Core ini hadir dalam konfigurasi quad-core hingga octa-core, baik berdiri sendiri maupun dalam sistem big.LITTLE. Berbagai chipset Snapdragon seri 400 (seperti 410, 412, hingga 450 yang populer di HP sejutaan seperti Samsung Galaxy A02s), serta seri 600 lama (seperti Snapdragon 665 di Redmi Note 8) mengandalkan Cortex-A53. Hal yang sama berlaku untuk banyak chipset MediaTek MT67xx, Helio P generasi awal, dan Exynos seri 7.

Raspberry Pi dan papan pengembangan. Raspberry Pi 3 Model B dan Raspberry Pi Zero 2 W memakai SoC berbasis Cortex-A53, memberikan akses luas ke arsitektur ARM 64-bit di kalangan pelajar, maker, dan pengembang hobi.

Perangkat IoT dan industri. Banyak SoC Allwinner, Rockchip, NXP, dan Renesas berbasis Cortex-A53 dipakai di set-top box, TV box, panel industri, dan gateway IoT. Campuran efisiensi dan dukungan software membuat Cortex-A53 sangat tangguh untuk pasar ini.

Profil Penggunaan ARM Cortex-A55

ARM Cortex-A55 diumumkan pada Mei 2017 bersama Cortex-A75 dan teknologi DynamIQ, yang memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengombinasikan core besar dan kecil dalam satu cluster CPU. ARM merancang Cortex-A55 untuk memberikan lonjakan kinerja komputasi dan manajemen daya yang jauh lebih optimal. Cortex-A55 juga menambahkan dukungan fitur baru untuk AI dan virtualisasi, menjadikannya lebih siap untuk kebutuhan komputasi modern.

Beberapa contoh dan kategori perangkat berbasis ARM Cortex-A55 yang relevan untuk pasar Indonesia:

Chipset gaming hemat budget dan HP menengah. ARM Cortex-A55 banyak dipakai sebagai core kecil yang dipasangkan dengan core besar (seperti Cortex-A75 hingga A78). MediaTek Helio G70 (populer di realme C3), G80, G85, dan G88 banyak dipakai di HP seperti realme Narzo, Infinix Hot/Note, dan Tecno. Konfigurasi ini memberi pengalaman gaming harian yang nyaman di kelas harga terjangkau.

Chipset Snapdragon kelas menengah terbaru. Berbagai chipset Snapdragon 6xx dan 7xx seperti Snapdragon 675, 680, 720G, dan 730G mengombinasikan core besar Cortex-A7x dengan core kecil Cortex-A55. HP seperti Redmi Note generasi baru, Realme seri angka, serta Galaxy A menengah memanfaatkan pola ini untuk mendapatkan keseimbangan sempurna antara performa dan keawetan baterai.

Perangkat IoT dan industri generasi baru. Seiring waktu, produsen seperti Renesas mulai menggunakan multicore ARM Cortex-A55 di seri RZ/G2L untuk single-board computer dan solusi AI edge, menggantikan posisi A53 untuk tuntutan yang lebih berat.

Baca Juga: Macam-Macam Chipset ARM dari Pertama Hingga Terbaru

Perbandingan Teknis dan Performa ARM Cortex‑A55 dan A53 di Smartphone

Berikut adalah perbandingan antara ARM Cortex-A55 vs ARM Cortex-A53, baik dari sisi teknis maupun performanya.

Peningkatan Performa Mikroarsitektur

Cortex-A55 meningkatkan performa hingga 18 persen dibandingkan A53 pada frekuensi dan fabrikasi yang sama, berkat penyempurnaan pipeline dan efisiensi eksekusi instruksi yang lebih tinggi. Peningkatan ini hadir dari optimasi di level mikroarsitektur tanpa mengubah sifat dasar sebagai core in-order dual-issue.

Penyempurnaan prediktor cabang yang lebih akurat menekan jumlah salah prediksi, sehingga aliran instruksi tetap terjaga dan unit eksekusi lebih jarang menganggur. Unit integer dan jalur data internal turut didesain ulang agar mampu memproses instruksi dengan latensi lebih rendah, menjaga throughput tinggi tanpa perlu peningkatan tegangan atau frekuensi.

Pada aplikasi nyata seperti penjelajahan web, navigasi antarmuka, atau startup aplikasi, lonjakan performa ini terasa sebagai transisi layar yang lebih mulus dan waktu muat yang lebih singkat. Kode yang sudah dioptimalkan untuk arsitektur ARMv8 dapat langsung menikmati percepatan ini tanpa adaptasi ulang, mempercepat adopsi di ekosistem perangkat entry-level dan menengah.

Peningkatan Efisiensi Daya

Pada beban kerja serupa, Cortex-A55 mengonsumsi daya sekitar 15 persen lebih rendah dibandingkan Cortex-A53, menjadikannya salah satu core hemat daya paling efisien di kelasnya. Efisiensi ini membuat A55 mampu menuntaskan tugas dengan jejak energi yang lebih kecil, ideal untuk perangkat dengan keterbatasan termal dan baterai.

Keunggulan daya dicapai lewat penerapan clock gating yang lebih agresif dan dukungan tegangan dinamis yang memungkinkan pemutusan blok internal secara presisi. Optimasi sirkuit juga mengurangi kebocoran daya statis, sehingga saat core dalam keadaan idle atau berjalan pada beban ringan, konsumsi daya bisa ditekan hingga ke level minimum yang lebih rendah.

Bagi perangkat mobile, hal ini berarti produsen dapat merancang ponsel dengan baterai yang lebih ramping tanpa mengorbankan masa pakai harian. Dalam skenario penggunaan campuran—seperti notifikasi latar, pemutaran musik, hingga browsing—A55 menyelesaikan tugas lebih cepat lalu segera memasuki status daya rendah, memangkas total energi yang terbuang.

Optimalisasi Subsistem Memori

Cortex-A55 menghadirkan latensi memori yang jauh lebih rendah dan bandwidth lebih tinggi, terutama ketika menggunakan konfigurasi cache yang direkomendasikan ARM seperti private L2 cache. Perbaikan subsistem ini menjadikan akses data terasa lebih responsif dan mengurangi bottleneck di jalur memori.

Cache L1 data dan instruksi yang dapat dikonfigurasi hingga 64 KB serta private L2 cache opsional memperpendek waktu tempuh data ke core. Prefetcher berbasis pola yang lebih pintar mampu mengantisipasi kebutuhan data sebelum diminta, sementara fitur cache stashing memungkinkan akselerator langsung menyimpan data di cache L2, memotong latensi bolak-balik ke DRAM.

Dampaknya paling terasa pada aplikasi yang intensif membaca dan menulis data, seperti decoding video resolusi tinggi, game 3D ringan, dan multitasking. Responsivitas sistem secara keseluruhan meningkat, mengurangi mikrojeda yang kerap dikeluhkan pada ponsel segmen bawah, serta membuat transisi antar aplikasi terasa lebih gesit.

Panduan Praktis Memilih HP dengan Chipset Cortex‑A55 dan A53

Bagi pengguna smartphone di Indonesia, memahami perbedaan arsitektur ini adalah kunci saat memilih HP baru atau bekas. Pengalaman kami melihat berbagai generasi HP menunjukkan pola pemakaian yang sangat dipengaruhi oleh jenis core yang digunakan. Berikut langkah praktis untuk memutuskannya:

Pertama, cek jenis chipset dan sesuaikan dengan aktivitas harian. Cari tahu nama chipset HP incaranmu di internet. Jika kamu hanya butuh HP cadangan untuk pemakaian dasar (chat, media sosial ringan, browsing) dan anggaran sangat ketat, HP berbasis ARM Cortex-A53 masih bisa mengakomodasi. Namun, kamu tidak bisa menuntutnya untuk membuka banyak aplikasi berat secara bersamaan tanpa mengalami lag.

Kedua, proyeksikan lama pemakaian. Jika kamu membutuhkan HP utama yang responsif, mulus untuk multitasking, dan tetap nyaman dipakai hingga 3–4 tahun ke depan, HP berbasis A53 akan cepat terasa tertinggal karena sistem operasi yang makin berat. Sebaiknya langsung pilih HP dengan chipset yang sudah menggunakan ARM Cortex-A55 (atau generasi lebih baru) sebagai core kecilnya.

Ketiga, perhatikan kombinasi core untuk produktivitas. Untuk kebutuhan gaming ringan-sedang, bekerja, atau edit video ringan, pastikan HP tersebut menggunakan chipset yang mengombinasikan core kecil ARM Cortex-A55 dengan core besar modern (seperti Cortex-A75, A76, A77, atau A78). Efisiensi dari A55 digabungkan dengan tenaga core besar akan memberikan performa harian yang jauh lebih smooth dan baterai yang tetap awet.

Dengan panduan ini, informasi spesifikasi teknis di atas kertas berubah menjadi alat praktis yang bisa membantu kamu membuat keputusan pembelian smartphone yang lebih rasional dan tidak mudah termakan _gimmick_ jumlah core semata.

FAQ: Pertanyaan Seputar ARM Cortex-A55 vs Cortex-A53

1. Apa beda ARM Cortex-A55 dan Cortex-A53?

Perbedaan utamanya ada pada arsitektur generasi baru di Cortex-A55 yang menawarkan performa komputasi lebih tinggi dan latensi memori jauh lebih rendah. Hal ini membuat Cortex-A55 terasa jauh lebih gegas dan efisien saat memproses data dibandingkan arsitektur lawas Cortex-A53.

2. Mana yang lebih bagus, Cortex-A55 atau Cortex-A53?

Secara teknis, ARM Cortex-A55 jauh lebih bagus karena dirancang sebagai penerus langsung dari seri Cortex-A53. Cortex-A55 membawa peningkatan kecepatan pemrosesan dan manajemen daya yang lebih mutakhir untuk menangani beban aplikasi modern.

3. Apakah ARM Cortex-A53 masih layak di tahun ini?

Prosesor dengan ARM Cortex-A53 saat ini hanya layak untuk pemakaian dasar, seperti komunikasi ringan pada HP entry-level super murah. Untuk kebutuhan jangka panjang dan aplikasi kekinian, arsitektur ini sudah terlalu tua dan rawan mengalami bottleneck.

4. Berapa persen peningkatan performa Cortex-A55 vs A53?

Menurut klaim resmi ARM, Cortex-A55 memberikan peningkatan performa rata-rata sekitar 18 persen dibanding Cortex-A53 pada frekuensi kecepatan yang sama. Peningkatan kinerja ini akan sangat terasa saat Anda membuka aplikasi berat atau melakukan multitasking.

5. Apakah Cortex-A55 lebih hemat baterai dibanding A53?

Ya, arsitektur Cortex-A55 memiliki tingkat efisiensi daya sekitar 15 persen lebih baik daripada Cortex-A53. Artinya, HP dengan Cortex-A55 bisa bertahan hidup lebih lama meskipun digunakan untuk menjalankan beban kerja komputasi yang setara.

6. Kenapa HP dengan prosesor Cortex-A53 sering lemot?

HP dengan Cortex-A53 sering terasa lemot karena arsitektur generasi awal 64-bit ini kesulitan mengimbangi ukuran aplikasi Android modern yang makin membengkak. Keterbatasan pada bandwidth memori dan sistem cache lawas membuatnya cepat kewalahan saat memproses banyak data sekaligus.

7. Apakah ARM Cortex-A55 bagus untuk main game?

Cortex-A55 sangat andal untuk menunjang performa gaming ringan hingga menengah, terutama jika dipasangkan dengan core performa besar (seperti Cortex-A75 atau A78) di dalam satu chipset. Ia bertugas menangani tugas latar belakang sistem dengan efisien agar core utama bisa fokus merender grafis game.

8. Apa contoh chipset Snapdragon yang pakai Cortex-A55?

Beberapa chipset populer seperti Snapdragon 680, 720G, dan 730G menggunakan klaster ARM Cortex-A55 sebagai core hemat daya mereka. Chipset ini banyak ditemukan pada HP Android kelas menengah yang terkenal awet baterai namun tetap memiliki performa bertenaga.

9. Cara cek HP Android pakai Cortex-A55 atau A53?

Cara termudah dan paling akurat adalah dengan menginstal aplikasi diagnosa perangkat keras gratis seperti CPU-Z atau AIDA64 langsung dari Play Store. Anda juga bisa mencari rincian spesifikasi SoC (System on Chip) HP Anda secara online di situs web ulasan teknologi tepercaya.

10. Pilih HP baru Cortex-A53 atau HP bekas Cortex-A55?

Jika anggaran Anda terbatas, HP bekas dengan kondisi normal yang sudah memakai chipset berbasis Cortex-A55 adalah pilihan yang lebih bijak untuk pemakaian jangka panjang. Arsitektur A55 menjamin kenyamanan multitasking yang jauh lebih baik daripada memaksakan beli HP baru yang tertinggal dengan A53 lawas.

Diperbarui terakhir: April 2026

Nama Penulis

Robenito

Tech, Game, & Music Enthusiast.
Telah mengulas dan mengkurasi puluhan artikel seputar internet, komputer, prosesor, software, dan game sejak 2017.

Next Post Previous Post